Bencana seolah tiada berhenti menimpa Nusantara tercinta. Belum kering tangis korban gempa di Tasikmalaya tanggal 2 September kemarin, bencana lain berupa banjir bandang kembali melanda daerah Sumatera, tepatnya kecamatan muara batang gadis Kabupaten Mandahiling Natal, 15 September berselang. Sampai saat ini disebutkan bencana ini telah menelan korban meninggal sebanyak 38 orang, sedangkan 25 orang lainnya belum ditemukan.
Berbagai analisa muncul untuk mempertanyakan mengapa musibah-musibah ini bisa beruntun terjadi. Sebagian ada yang menyalahkan oknum-oknum tidak bertanggung jawab, yang dengan semena-mena telah merambah hutan tanpa memperhitungkan efek samping yang akan terjadi. Sebagian lagi menuding beberapa aparat pemerintah yang lalai dalam melaksanakan tugasnya. Ada juga yang menunjuk masyarakat yang tidak "awas" dengan pertanda-pertanda alam yang telah berbicara. Tentu saja saling menyalahkan tidak akan bisa mengembalikan korban yang hilang, apalagi mengganti kerugian yang ditimbulkan.
Jumlah korban yang tersebar dalam tiap bencana yang terjadi tentu saja berbeda-beda, dan berbanding searah dengan jumlah penduduk yang tinggal di wilayah tersebut. Biasanya korban tidak hanya disebabkan oleh bencana tersebut secara langsung, namun juga disebabkan oleh efek domino dari ketiadaan informasi, kepanikan sesaat dari masyarakat, yang umumnya pada saat terjadi bencana berada di pusat-pusat keramaian, seperti di dalam gedung, pasar bertingkat dan lain sebagainya.
Sebagai contoh, gempa Tasikmalaya. Gempa terjadi ketika masyarakat sedang terpusat di pasar. Kadangkala sebagian pasar hanya dilengkapi dengan sebuah pintu utama saja. Ketika terjadi gempa, semua pengunjung akan saling berebut menuju pintu keluar, yang mengakibatkan banyak diantara mereka yang terinjak-injak atau terjatuh karena situasi panik. Korban ini secara tidak langsung adalah korban gempa juga, walaupun bukan korban langsung.
Ketanggapan masyarakat, sarana dan prasarana merupakan salah satu kunci agar kita bisa meminimalisir korban yang dimunculkan sewaktu dan setelah bencana. Jika masyarakat telah memiliki pengetahuan akan antisipasi bencana, maka akan lebih mudah untuk menciptakan situasi yang lebih kondusif dibandingkan dengan masyarakat yang tanpa pengetahuan sama sekali. Untuk itu, ada beberapa langkah yang harus dilakukan yang tentu saja membutuhkan dukungan masyarakat dan pemerintah sebagai penentu kebijakan.
Langkah Pertama: pengkajian lokasi pemusatan penduduk yang cenderung rawan bencana harus mempunyai wujud nyata. Daerah-daerah dengan masing-masing karakteristik harus dibuatkan skala kemungkinan bencana yang akan terjadi. Untuk daerah yang bertempat di sebelah tebing gunung/bukit, maka perlu dibuat perkiraan hujan berapa lama yang harus diwaspadai oleh masyarakat. Jika daerahnya berada di pusat keramaian yang rawan gempa, maka harus dibuatkan sebuah papan peringatan yang menunjukkan bahwa daerah tersebut rawan gempa. Bangunan-bangunan juga harus diberikan dan harus lulus standar kelayakan. Karena setelah bencana masyarakat kita cenderung melupakan fakta yang telah terjadi, dan memulai hidup kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa sehingga lalai dalam persiapan.
Hal ini bisa diwujudkan dengan menciptakan tenaga-tenaga ahli yang memahami tentang meteorologi, geofisika dan kajian sejenisnya. Dengan adanya kerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi di luar negeri dan penyedia-penyedia dana untuk beasiswa. Pemerintah dapat membuat sebuah project yang pada akhirnya menciptakan ahli-ahli dimaksud yang bisa dipetakan sesuai dengan daerah yang membutuhkan. Kerja keras tentu saja harus dilakukan dengan melakukan pendekatan terhadap pihak penyandang dana. Jika hal seperti ini bisa diciptakan, jumlah tenaga ahli yang dapat menyumbangkan ilmu tentu saja cukup banyak sehingga masyarakat kita tidak sepenuhnya buta bencana.
Langkah Kedua: Mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung tanggap bencana. Hasil dari langkah pertama kemudian diejawantahkan dengan membuat papanisasi tentang kondisi suatu daerah, standar dan jalur-jalur yang tercepat yang bisa dilalui jika terjadi bencana, standarisasi dari bangunan, jumlah pintu keluar, jumlah maksimal orang perjalur dalam sebuah blok dan lain sebagainya. Khusus pada daerah rawan yang sudah pada tingkat waspada, pada bagian lantai jalan diberi simbol- simbol darurat dengan menggunakan tinta yang bercahaya ketika gelap. Asumsinya, pada saat panik sensor otak hanya menerima beberapa input sederhana saja kemudian memprosesnya menjadi sebuah aksi, yang kita sebut dengan reflek. Dengan memanfaatkan simbol-simbol ini, dapat membantu masyarakat untuk mengambil keputusan secara cepat. Simbol-simbol darurat harus didesain sedemikian rupa sehingga bisa meminimalisir kekacauan dan masyarakat bisa mendapatkan akses yang tercepat untuk keluar dengan selamat dari lokasi tersebut
Langkah Ketiga: Sosialisasi pelatihan tanggap bencana alam. Sosialisasi ini bisa dilakukan di sekolah-sekolah, RT/RW, pusat-pusat keramaian, dan daerah rawan bencana. Sosialisasi disesuaikan dengan karakteristik daerah tempat sekolah tersebut, dan karakteristik bencana yang kira-kira akan terjadi. Untuk daerah rawan gempa, akan diberikan porsi yang berbeda dengan daerah yang rawan banjir atau longsor. Sosialisasi dilaksanakan oleh polisi pamong praja/dinas pemadam kebakaran/polisi/TNI. Dengan memberikan bekal-bekal yang cukup tentang hal-hal yang harus dilakukan ketika bencana, simulasi bencana yang membuat anak-anak menjadi lebih siap dan tahu apa yang harus dilakukan serta tidak gampang trauma ketika bencana menghadang. Untuk sekolah pelatihan ini bisa dilaksanakan sebagai program sekolah yang dapat dilakukan setiap awal atau akhir semester, minimal satu kali dalam setahun.
Langkah Keempat: persiapan pascabencana. Penggunaan tas darurat merupakan salah satu opsi yang juga sangat membantu dalam tanggap terhadap bencana. Dengan mempersiapkan perangkat-perangkat yang dibutuhkan di saat-saat darurat seperti: makanan kaleng, kantong tidur, P3K, senter, pisau, kompas, tali, uang kas, sertifikat2 penting, handuk, tisu, sendok, batrai cadangan, foto keluarga, lilin, radio portabel, batrai, pakaian. Kesemua itu kemudian dikompilasi dalam sebuah tas yang selalu dibuat untuk selalu siap sedia kapan dibutuhkan. Ketika bencana datang, masyarakat dilatih untuk segera menggunakan tas darurat yang telah disediakan di tempat yang mudah untuk diakses, dan keperluan untuk 2-3 hari bisa dipenuhi sembari menunggu bantuan datang.
Ketanggapan masyarakat tentu saja harus didukung dengan informasi yang relevan dan tepat saji. Untuk itu haruslah terdapat Proses Bisnis yang tepat agar informasi yang tepat bisa sampai pada saat yang tepat pada orang yang tepat. Untuk itu ada beberapa proses bisnis yang harus dimanajemen ulang.
Proses pertama: sentralisasi berita. Jika salah seorang anggota keluarga masyarakat berada di daerah bencana, umumnya media seperti televisi dan radio menjadi salah satu sumber informasi utama bagi masyarakat karena setelah beberapa waktu media telekomunikasi seperti telephone dan ponsel mendadak "macet". Namun, penyampaian informasi dari media yang sepotong-sepotong dan cara menyampaikan dengan teknis dan data yang berbeda-beda bisa malah membuat masyarakat semakin panik. Hal ini karena terkait dengan hal-hal teknis pencari berita di lapangan yang menentukan apa dan bagaimana informasi ini sampai ke tangan masyarakat. Beberapa wilayah terekspos secara berlebihan, sedangkan wilayah-wilayah tertentu malah tidak tersentuh sama sekali.
Seharusnya dengan banyaknya jumlah stasiun televisi yang ada di Indonesia, bukankah memungkinkan untuk membuat sebuah pusat berita yang tersentralisasi. Tetap dengan pernak-pernik masing-masing televisi, namun siarannya live. Sehingga masyarakat bisa mendapatkan informasi yang teruptodate, langsung dari berbagai sumber sumber yang melihat dari sisi yang berbeda-beda. Untuk teknis penyiaran, diserahkan langung ke masing-masing stasiun tv, ada yang ingin menayangkannya langsung atau ada yang ingin menundanya untuk dikompilasi dalam sebuah siaran berita, atau dengan menggunakan running text, dan lain-lain.
Proses kedua: mempersiapkan website dan layanan telepon untuk BMG yang lebih "mapan". Sumber informasi yang interaktif hanyalah dari BMG, baik layanan via website maupun layanan via telephone. Umumnya pada saat terjadi bencana seperti gempa, untuk beberapa saat, karena jumlah pengunjung yang sangat tinggi membuat website BMG tiba-tiba menjadi sangat lambat. Layanan telephone juga mendadak menjadi macet. Sebagai alternatif terpaksa para pencari informasi menggunakan website dari luar negeri dengan menggunakan google. Tentu saja sebagai satu-satunya sumber informasi pemerintah harus lebih memperkuat sistem informasi yang dimiliki oleh BMG dengan cara memperbesar bandwidth website BMG, walaupun terkesan pemborosan, namun di saat-saat tertentu malah menjadi hal yang vital. Untuk pelayanan telephone, juga harus dipikirkan untuk membuat sebuah otomasi pelayanan telephone yang bisa memberikan data teruptodate dengan menggunakan menu-menu otomatis, tanpa menggunakan operator. Yang tentunya terhubung dengan database BMG yang terkini.
Baca selengkapnya !
Ada teman yang bertanya tentang cara menuliskan dan membaca gambar ke dan dari database. Sebenarnya itu sudah pernah saya sediakan dalam pembuatan
"Banyak dituruik banyak basuo" adalah sebuah pepatah Minang. Artinya kira-kira begini, makin banyak kita melakukan perjalanan, makin banyak yang kita temui. Makin bertambah pengetahuan, makin banyak kesalahan yang dilakukan, makin banyak pengalaman yang didapat dari sana. Bahasan kali ini bukan membahas tentang itu. :P. Tapi emang berasal dari sana, berteman dengan salah seorang konsultan yang sibuk dengan proposal-proposal membuat saya mendapat pengalaman baru.
Langkah selanjutnya adalah memberi format penomoran dari masing-masing heading. Caranya dengan mengaktifkan Multilevel List, yang akan membuat pengurutan berdasarkan kebutuhan seperti 1. 1.1. 1.1.1. 1.1.1.1. atau pengurutan I A 1 a (1) dan seterusnya. Setelah Format penomoran dilakukan, update lah semua sub judul / judul yang ada. Dengan menyesuaikan tingkat Headingnya (heading terkecil memiliki tingkatan terbesar). Setelah itu kembali pada field TOC tadi, klik padan pada TOC kemudian pilih Update Field. Here you go, selamat berdaftar isi.
Salah satu
Ada request di
huaahh... akhirnya..., setelah beberapa minggu yang akhirnya program pertama saya menggunakan Visual Basic .Net 2008 bisa terselesaikan. Belajar dari pengalaman menggunakan Visual Basic, dan tentu saja dengan bantuan e book tentang Pemrograman .Net dari Mbah flazx.



